FATIMAH AZ ZAHRA

0 ulasan Orders (0)
Rp 72,000 Rp 90,000 -20%
Kode Produk: PPS010884
Tersedianya: Tersedia

OverView

Fatimah az-Zahra adalah satu dari empat wanita yang dijamin surga oleh Rasulullah saw dalam haditsnya yang berbunyi: "Sebaik-baik perempuan muslimah surga adalah Khadijah, Fatimah, Maryam, Asiyah." HR. Baihaqi. Dalam buku ini, kisah Fatimah dicerit...
-20%

30 MENIT JAGO MAIN KEYBOARD

Rp 28,000    Rp 35,000  
-20%
-20%
-20%
-20%
-20%

Penebar Swadaya
Penebar Plus
Agrofilo
cif
Citras
Griya Kreasi
Indria Pustaka
Kanaya Press
Kata Media
Kaysa Media
Kriya Pusataka
Media Pusindo
Puspa Populer
Puspa Swara
Pustaka Bunda
Tiara Aksa
Tripose
Trubus

Product Description

Fatimah az-Zahra adalah satu dari empat wanita yang dijamin surga oleh Rasulullah saw dalam haditsnya yang berbunyi: "Sebaik-baik perempuan muslimah surga adalah Khadijah, Fatimah, Maryam, Asiyah." HR. Baihaqi. Dalam buku ini, kisah Fatimah diceritakan dalam cerita, atau istilah populernya itu adalah cerita berbingkai. Sebagai prolog, diceritakan seorang pengarang bernama Zebun bin Mestan, didakwa karena mengaku sebagai pengarang Diwan az-Zahra. Dia tidak bisa membuktikan karena naskahnya habis dilalap api saat kebakaran. Sehingga dia berusaha mati-matian untuk mengisahkan kembali kisahnya dalam 40 hari sebagai pertanggungjawaban cintanya kepada Sayyidatina Fatimah az-Zahra. Maka kisah ini, dituturkan dalam empat puluh bagian. Karbala menjadi saksi kepedihan menyayat yang dialami oleh Sayyidina Hasan dan Husein saat peristiwa Karbala. Tempat ini pula menjadi saksi bertemunya hamba Allah yang begitu mencintai keluarga Rasulullah ini dengan cinta mereka yang murni dan mendalam. Husrev Bey bertemu dengan seorang anak lelaki yang awalnya dikira sebagai anaknya yang pergi berpamitan kepadanya dan meninggalkan selama empat puluh hari. Namun anak itu adalah seorang bernama Hasyim, "sang pengabdi jubah". Kerinduan kepada anaknya seolah diobati oleh kehadiran anak itu. Lantas mereka dipersatukan oleh kecintaan yang sama, yakni kecintaan kepada Hasan dan Husein yang menyeret keduanya dalam tangisan yang sama. Junaydi Kindi, seorang pedagang terkenal, kehilangan istri serta anaknya dalam peristiwa perampokan padang pasir enam belas tahun silam. Namun karena suatu mimpinya, ia percaya bahwa anaknya masih hidup dan suatu saat akan dipertemukan kembali kepadanya. Ada pula kisah tentang Nenek Destigul, seorang nenek yang buta matanya, namun begitu bersemangat dalam menghadapi hidupnya. Ia tinggal bersama sang cucu yang bernama Abbas. Ramadan Usta, seorang yang dulunya perampok, namun dalam perjalanan kehidupannya menemukan cahaya Islam sehingga dirinya bertobat. Junaydi Kindi membutuhkan seorang pembantu, kemudian mengambil Abbas sebagai pembantunya untuk mengiringi perjalanan. Namun sayang sekali, dalam perjalanan keduanya ia mengalami hal yang tidak menyenangkan sehingga membuat Abbas harus tertawan dan Junaydi Kindi diambil sumpahnya untuk kembali dalam waktu yang telah ditentukan. Sayang sekali, dalam waktu itu ia tidak menepati janji karena situasi Karbala yang sedang tidak kondusif sehingga ia tidak dapat memasuki tempat itu untuk mengambil saksi untuk membebaskan Abbas. Malang baginya, dalam perjalanan pulang justru bertemu dengan seorang anak perempuan yang orang tuanya dibunuh di hadapan anak perempuan itu. Situasi ini tidak menguntungkan baginya, dan justru malah mempersulit. Anak perempuan itu bernama Nesibe. Namun kemudian, situasi kembali normal. Singkat cerita Junaydi Kindi menemukan fakta bahwa Abbas adalah anaknya yang hilang, yang selama ini diasuh oleh Nenek Destigul. Para tokoh ini dipersatukan dalam sebuah perjalanan dari tanah Karbala menuju ke Makkah. Sayang sekali, Nenek Destigul keburu meninggal dalam perjalanan. Setiba mereka di Madinah, suatu peristiwa terjadi, Abbas dan Nesibe dipersalahkan karena telah memakan kurma yang jatuh dari pohonnya. Hasyim, mengambil beban kesalahan itu untuknya. Namun sayang sekali, sebagai tebusan, ia diminta untuk menikahi anak perempuan pemilik kebun untuk melunasinya. Pernikahan akan berlangsung di Makkah. Endingnya, akan lebih menarik kalau dibaca sendiri ^^ Well, dalam penggalan perjalanan mereka, diberikan cuplikan-cuplikan cerita seputar kehidupan Rasulullah dan ahlul baitnya. Kisah kemuliaan Fatimah az-Zahra dikemas dengan begitu menarik, menggugah semangat, dan disampaikan dengan begitu pas. Pengarang mampu menyatukan kedua kisah ini, dengan cerita Hasyim dkk dikisahkan dengan alur maju, sementara kisah Ibunda Fatimah disajikan dalam alur campuran. Cuplikan-cuplikan itu begitu pas, sehingga membuat pembaca mampu menikmati kedua ceritanya secara bersamaan. Ada banyak kisah tentang Fatimah az-Zahra yang akan lebih menarik untuk dibaca sendiri. Salah satunya, saya tulis secara spesial di sini [Kisah gelang emas Fatimah]. Membaca kisah Fatimah az-Zahra, saya merasa sedih. Selain karena teladan putri Rasulullah ini, juga karena kekhawatiran apakah buku tersebut kental dengan nuansa Syiahnya karena pernah mendapat buku yang seperti itu yah, begitulah. Namun saya mendapatkan buku ini disajikan dengan baik-baik saja. Dengan tetap khusnudzon kepada penulis dan sejauh ini, tidak menemukan ada pelanggaran akidah di dalamnya correct me if i wrong. Sedih memang dengan yang begini. Bagaimana upaya mencintai Fatimah az-Zahra harus diselimuti oleh ketakutan akan dinodai akidah saya T^T Akhirnya, pesan saya, marilah kita mencintai ahlul bait dengan benar-benar cinta yang lurus, karena mereka adalah keluarga terdekat Nabi saw.

Menulis ulasan

Catatan: HTML tidak diterjemahkan!
    Bad           Good